Kamis, 25 April 2013



SABAR

Secara bahasa  sabar berarti menahan diri. Adapun secara syariat sabar artinya menahan diri dari tiga perkara yakni, menahan diri dari meninggalkan ketaatan kepada Allah, menahan diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan menahan diri dari mencela takdir yang tidak disukai. Adapun ciri orang yang sabar adalah orang yang apabila ditimpa musibah maka ia akan mengucapkan : “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya  kepadaNyalah kami kembali”. Hal ini sebagaimana firman Allah : “ Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yakni) Orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan   انا لله وانا اليه راجعون  “, (QS. al Baqoroh : 155-156).

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang bersifat mutlak. Yakni ketaatan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini karena Allah adalah zat yang Maha Benar, Maha Baik, sehingga semua perintah-Nya adalah benar.

Takdir apabila disandarkan kepada Allah maka pada hakekatnya semua takdir adalah baik. Adapun apabila disandarkan kepada manusia maka takdir ada dua yakni takdir yang baik dan takdir yang buruk. Misalkan apabila seseorang ditimpa musibah berupa ditinggal mati oleh suaminya maka mungkin bagi si istri ini adalah takdir yang buruk namun bagi Allah ini adalah takdir baik karena dengan musibah tersebut Allah hendak mengganti untuk si istri dengan suami yang lebih baik, yang lebih soleh dan lebih sayang kepadanya. Seperti itulah penjelasan mengapa takdir ada yang baik dan ada yang buruk apabila disandarkan kepada manusia. Namun apabila takdir disandarkan kepada Allah maka pada hakekatnya semua takdir adalah baik.

Dan juga dalam peristiwa anak kecil yang dibunuh oleh nabi Khidir. Dalam pandangan manusia ini adalah takdir yang buruk. Tetapi bagi Allah ini adalah ketetapan yang baik. Karena ternyata orang tua anak kecil yang dibunuh Khidir tersebut adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Dan anak kecil tersebut ditakdirkan jika tumbuh sampai besar akan menyeret kedua orang tuanya kepada kekafiran. Maka nabi Khidir membunuhnya agar Allah mengganti untuk orang tua anak tersebut dangan anak lain yang sholeh dan lebih sayang kepada orang tuanya. Apa yang dilakukan nabi Khidir ini tidaklah atas kemauannya sendiri tetapi karena ilmu dari sisi Allah. Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar