Pilar-Pilar Dakwah Dalam Surat Al Ashr
Al Quran adalah sesuatu yang paling agung untuk didalami dan dipelajari bagi siapa saja yang ingin selamat dari azab Allah dan meraih ridha Allah. Surat al Ashr adalah salah satu surat dari al Quran yang berkedudukan tinggi. Dahulu para sahabat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ jika saling bertemu maka mereka tidak berpisah kecuali setelah membacakan surat al Ashr. Imam asy Syafi'i, salah satu dari imam yang empat-semoga Allah limpahkan rahmat atas mereka- berkata,"Kalaulah umat manusia mempelajari surat ini niscaya cukup bagi mereka". Dalam ucapannya yang lain,
لَوْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ حُجَّةً عَلَى خَلْقِهِ إِلَّا هَذِهِ السُّوْرَةَ لَكَفَتْهُمْ
"Kalau sekiranya Allah tidak turunkan hujjah kecuali surat ini niscaya telah cukup".
Mengapa surat ini memiliki kedudukan yang begitu tinggi?
Secara bahasa dakwah berasal dari kata da'a yad'u bermakana ajakan atau seruan. Sedangkan secara istilah dakwah bermakna menyeru manusia untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai akhlak, akidah dan syariat Islam. Dakwah adalah seruan kepada Allah, beriman kepada Allah dan beriman kepada syariat-syariat yang dibawa oleh para rasul dengan cara mempercayai semua yang mereka beritakan dan taat kepada apa yang mereka perintahkan. Ini mencakup dakwah kepada dua kalimat syahadat,sholat, zakat, puasa dan haji jika telah mampu. Mencakup pula seruan idirman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir, baik dan buruk. Mencakup pula dakwah kepada menyembah Allah seolah-olah engkau melihat Allah dan jika kamu tidak bisa melihat Allah maka sesungguhnya Allah Maha Melihatmu. Jadi dakwah mencakup pula seruan kepada Islam, Iman, dan Ihsan.
Tafsir surat al Ashr
Wal ashr, Allah bersumpah dengan masa (waktu). Ashr yang dimaksud di sini adalah masa atau zaman atau waktu secara umum bukan waktu sholat ashr.
Jika Allah boleh bersumpah dengan sesuatu diantara makhlukNya maka kita tidak boleh berdasarkan sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ,
"Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah maka ia telah musyrik". [1]
Sesungguhnya semua manusia dalam kerugian kecuali orang orang yang beriman dan beramal sholeh
Pilar pertama adalah beriman dengan ilmu
Iman tidak terjadi kecuali dengan ilmu. Begitu pula dakwah harus dibangun di atas ilmu. Allah berfirman dalam surat Yusuf ayat 108,
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
"Katakanlah(Muhammad) inilah jalanku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas ilmu MahaSuci Allah dan tidaklah aku termasuk orang-orang musyrik"
Di sini Allah perintahkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk menyampaikan kepada manusia bahwa jalan yang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan para sahabat seru adalah jalan dakwah yang dibangun di atas ilmu.
وَقَالَ البُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى:
“بَابُ: العِلْمُ قَبْلَ القَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى: {فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ} فبدأ بالعلم قبل القول والعمل”
Imam Bukhari rahimahullah berkata, "Bab 'Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal' dalilnya adalah firman Allah Ta'ala (yang artinya),'Maka Ilmuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu'." (QS. Muhammad[47]:19).
Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah, dan perkataan para sahabat. Merekalah orang-orang yang berilmu.
Pilar kedua beramal dengan ilmu yang diketahui
Ilmu dan amal laksana pohon dan buah. Al Imam Ibnul Qayyim al Jauziyyah rahimahullah berkata,"Keikhlasan dan tauhid adalah pohon di hati. Cabang-cabangnya berupa amalan, sedangkan buahnya adalah kebaikan hdup di dunia serta kenikmatan abadi di akhirat. Sebagaimana buah-buahan surga yang tiada terputus dan tiadan pula terlarang, maka seperti itu jugalah buah keikhlasan dan tauhid di dunia."[2]
Kalau seseorang tidak beramal dengan ilmunya maka dakwahnya tertolak. Di sini pentingnya sifat keteladanan. Rasullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, "Al Quran bisa menjadi pembela atau musuh bagimu"[3]. Allah berfirman dalam surat Fussilat ayat 33,
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, "Sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim)?
Jika seorang muslim telah beramal sesuai dengan ilmunya maka sampailah ia pada pilar yang ketiga yakni berdakwah di jalan Allah.
Pilar ketiga berdakwah di jalan Allah
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
"Barang siapa mengajak kepada Allah, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia memperoleh dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sekitpun dosa-dosa mereka".[4]
Sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,
"Demi Allah jika seseorang mendapatkan hidayah melalui kamu itu lebih baik daripada unta merah".[5] Unta merah adalah harga paling berharga orang arab pada waktu itu.
Allah berfirman dalam surat an Nahl ayat 125,
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
"Serulah manusia kepada jalan Allah dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Allah, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya dan siapa yang mendapat petunjuk ".
Pilar keempat saling berwasiat dalam kesabaran
Allah berfirman dalam surat al Ahqaf ayat 35,
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍ ۗ بَلٰغٌ ۚفَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ
Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul ulul azmi dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) kecuali hanya sesaat di siang hari. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan maka tidak dibinasakan kecuali orang-orang yang fasik.
Firman Allah dalam surat Rum ayat 60,
Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.
Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, semua urusannya adalah baik. Jika mendapat nikmat dia bersyukur maka itu baik. Dan jika ditimpa musibah dia bersabar maka itu baik baginya.
Footnote :
[1] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, seperti yang dikutip Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (1/57). Syaikh Sulaiman berkata dalam Taisirul Aziz (hal 587): 'Sanadnya jayyid'.
[2] Al Fawaid hal 164
[3] HR Muslim no. 223
[4] HR Muslim no. 2674
[5] HR Bukhari no. 2942 dan HR Muslim no. 2406
Muahdhrah syaikh Abdul Ilah al Juhani yang diterjemahkan oleh ustadz Ruwaifi as Sulaimi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar