Pembahasan Kitab Masail Jahiliyah 3
Mukaddimah Kitab Masail Jahiliyah
Ini adalah pembahasan tentang masalah-masalah jahiliyah yang Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyelisihinya. Menyelisihi ahlul jahiliyah hukumnya wajib bagi setiap muslim. Siapa ahlul jahiliyah yang dimaksud di sini? Mereka adalah ahlul jahiliyah dari ahli kitab dan ahlul jahiliyah kaum musyrikin Quraisy. Kita ingin mengenal apa saja masail jahiliyah dari kalangan al Yahud dan Nashara. Tujuannya adalah sebagaimana ungkapan "Aku berupaya mengenali jenis-jenis kejahatan dan kejelekan bukan untuk melakukannya tetapi dalam rangka melindungi diriku darinya. Barangsiapa yang tidak mengenali jalan-jalan kesesatan dan jalan-jalan kejahatan di sisi jalan-jalan kebaikan maka dia akan jatuh ke dalam jalan-jalan kejahatan tersebut".
Pertama ahlul jahiliyah dari ahlul kitab. Alyahud wan nashara disebut ahlul kitab karena memang dasar agama mereka berasal dari kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Musa dan nabi Isa. Penamaan ini berbeda dengan kaum yang kepada mereka tidak diberikan al kitab yaitu kaum yang kedua. Siapa mereka? Al Ummiyin. Mereka adalah orang-orang arab yang tidak beragama yahudi maupun nashrani. Diberi julukan al ummiyin nisbah kepada al umm atau ibu atau ummi. Kenapa diberi nama Ummi? Karena mereka adalah kaum yang tidak bisa membaca juga menulis.
Demikian datang dalam shahih Bukhari dan Muslim. Rasulullah mengatakan : " Kita ini (yakni Arab) adalah ummat yang ummi".
Juga sebagaimana firman Allah yang disebutkan dalam surat al A'raf ayat 157 :
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ
Yakni orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis).
Hikmah Rasulullah tidak bisa baca tulis adalah sebagai bukti bahwa Beliau memang benar-benar seorang Nabi yang al Qur'an itu tidak datang dari Beliau. Beda dengan para penyair, mereka pandai baca tulis. Dan ini juga mukjizat Allah bahwa al Qur'an ini dibawa oleh seorang yang tidak bisa baca tulis.
Juga firman Allah dalam surat al Jumuah ayat 2 :
هُوَ الَّذِىۡ بَعَثَ فِى الۡاُمِّيّٖنَ رَسُوۡلًا مِّنۡهُمۡ
Dialah Allah yang telah mengutus kepada kaum ummiyin seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri.
Kaum Jahiliyah Quraisy Allah tidak turunkan kepada mereka kitab sejak masa nabi Allah Ibrahim lalu nabi Ismail yang turun temurun menurunkan bangsa Arab. Beda dengan Bani Israil, Allah turunkan kepada mereka Taurat, Zabur, juga Injil. Maka mereka, yakni Bani Israil, ahlul kitab. Sementara orang-orang Arab, mereka adalah kaum yang Ummi.
Demikian Allah sebutkan dalam surat Saba' ayat 44 :
وَمَآ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَآ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍۗ
Dan tidaklah Kami berikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka dapat mempelajarinya dan tidak pernah pula Kami utus seorang pemberi peringatan kepada mereka sebelum Engkau wahai Muhammad.
Beda dengan Bani Israil, selalu dibimbing para Nabi secara langsung. Dan ini sebenarnya kelebihan Bani Israil. Tetapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sombong, menolak kebenaran, merubah-rubah Injil, merubah-rubah Taurat. Gengsi untuk menerima kebenaran jika kebenaran itu dianggap tidak menguntungkan kabilah atau kelompoknya. Sehingga mereka terpecah-belah padahal al Kitab ada di tengah-tengah mereka. Mereka menta'rif ayat-ayat Taurat dan Injil. Ditambah oleh mereka ke dalam Taurat dan Injil dengan berbagai khurafat, dongeng-dongeng, dan berbagai macam bid'ah. Demikian kehidupan Nashara dan Yahudi.
Dari Abu Hurairah dari Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «كانت بنو إسرائيل تَسُوسُهُمُ، الأنبياء، كلما هلك نبي خَلَفَهُ نبي
Dahulu Bani Israil selalu dibimbing para Nabi, setiap kali wafat seorang Nabi ia akan digantikan dengan Nabi lain.
Namun (kebanyakan) mereka adalah orang-orang yang sombong, menolak kebenaran. Mereka adalah ahlul kitab sedangkan orang-orang Arab adalah kaum yang Ummi. Dalil yang menunjukkan bahwa orang-orang Arab tidak pernah diutus kepada mereka seorang Rasul adalah sebagaimana dalil yang telah disebutkan di atas dalam surat Saba' ayat 44. Allah berfirman :
وَمَآ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَآ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍۗ
Dan tidaklah Kami berikan kepada mereka kitab-kitab yang mereka dapat mempelajarinya dan tidak pernah pula Kami utus seorang pemberi peringatan kepada mereka sebelum Engkau wahai Muhammad.
Sehingga diantara definisi kaum yang Ummi adalah kaum yang tidak bisa baca tulis, tidak pernah diturunkan kepada mereka kitab-kitab Allah sebagai pegangan hidup, dan tidak pernah pula diutus kepada mereka rasul-rasul.
Jadi kaum Jahiliyyah yang dimaksud syaikh Imam al Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab ada dua yakni kaum jahiliyyah dari kalangan ahlul kitab, Yahudi dan Nashrani, dan kaum jahiliyyah dari kalangan orang-orang musyrik Arab. Tiga kelompok ini, mereka semuanya mengklaim berada di atas agama nabi Ibrahim. Namun tiga kelompok ini Allah bantah semuanya dalam firmanNya surat Ali Imran ayat 67 :
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.
Pertanyaannya apakah ahlul jahiliyyah terbatas pada tiga kelompok ini? Jawabannya tidak. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab al I'tisham :
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ
Tidak akan ditegakkan kiamat sampai ummatku ini meniru cara-cara ummat sebelum mereka sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Ditanyakan, wahai Rasul, Apakah yang dimaksud Romawi dan Persia? Dijawab Rasulullah : Siapa lagi kalau bukan mereka?
Sehingga berdasarkan hadis ini bahwa ahlul jahiliyyah yang kita diperintahkan untuk menyelisihinya adalah termasuk juga kaum majusi dari Persia.
Dijelaskan oleh al Hafidz Ibnu Hajar, jawaban Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Persia dan Romawi, ini karena saat itu romawi dan persia adalah dua umat yang terkenal. Dua umat yang dikenal dengan luasnya wilayah kekuasaan dan banyaknya jumlah rakayat.
Sehingga dari sini penting bagi kita untuk mengenali metode dan manhaj mereka dalam beriman, berakhlak, dalam menyikapi syariat Allah, agar kita tidak terjatuh pada sikap-sikap mereka.
Bahwa dalam kitab ini disebutkan kurang lebih 128 masail jahiliyah. Penulis melanjutkan, masalah-masalah tersebut yang setiap muslim pasti membutuhkannya. Muslim yang bagaimana? Muslim yang benar-benar beriman kepada Allah, syariatlNya, beriman kepada hari akhir tentu akan mempersiapkan dirinya agar kelak bisa selamat pada hari kiamat nanti.
Setiap muslim yang benar-benar beriman kepada Allah dan rasulNya, muslim yang bangga dan cinta dengan agamanya jangan sampai mengikuti jejak mereka.
Maka setiap muslim yang seperti ini tidak ada yang tidak butuh mengenali masail jahiliyah agar tidak terjatuh dalam kesesatan sebagaimana kaum jahiliyah.
Penulis mengutip sebuah syair yang maknanya secara global adalah "Bahwa suatu perkara akan ditampakkan kebaikan dan keindahan oleh lawannya". Keindahan tauhid akan ditampakkan oleh kejelakan syirik. Seseorang yang mengenal kejelekan dan bahaya kekufuran dian akan mengenal keindahan Islam. Seseorang yang mengenal kejelekan masail jahiliyah akan mengenal, di waktu yang sama, keindahan sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Syair kedua, "Dan segala sesuatu akan nampak semakin jelas dengan sebab adanya lawan dari sesuatu tersebut". Air tawar terasa enak, segar saat diminum, agak terasa seolah-olah manis manakala setelah sekian waktu lamanya kita minum air yang mengandung garam. Kita akan merasakan nikmatnya cahaya matahari yang terang benderang manakala sebelumnya kita berada dalam kegelapan selama berbulan-bulan. Penyebutan syair di atas maksudnya adalah dengan mengenali masail jahiliyah kita akan mengenal indahnya sunnah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Pertemuan ketiga
Disampaikan oleh Ustadz Luqman Baabduh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar