Minggu, 30 Januari 2022

 Tafsir Surat Ar Rum Ayat 31-32


وَلَا تَكُونُوا۟ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُوا۟ دِينَهُمْ وَكَانُوا۟ شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Dan janganlah kalian menjadi termasuk orang-orang musyrik yang mereka itu memecah belah agamanya menjadi beberapa golongan dan setiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka

Dari ayat ini kita bisa mengambil lima pelajaran.

Pelajaran pertama

Syirik itu bermacam-macam jenisnya karena kaum musyrikin senang berpecah belah. Syirik itu setidaknya ada empat jenis, yakni:

Beribadah kepada Allah namun dalam kesempatan yang sama juga beribadah kepada selain Allah. Ini jenis syirik yang paling banyak diamalkan umat manusia. Ini disebut juga syirkul jahiliyah.

Murni menyembah selain Allah. Ini terjadi pada orang-orang Majusi, Hindu, Budha, dan sejenisnya.

Atheis. Tidak menyembah Allah tidak pula menyembah selain Allah.

Syirik dalam bentuk, Allah bisa menyatu dengan makhluk. Ini diyakini orang-orang kristen, Rafidahah, Sufiyah, dan sejenisnya. Ibnul Farabi dan Ibnu Sina memasukkan prinsip-prinsip batil ini dengan kedok cinta kepada Ahlul Bait.

Pelajaran kedua

Ketika Allah melarang dari kesyirikan maka lazimnya Allah memerintahkan untuk bertauhid. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini berkata "Hendaknya kalian menjadi ahlut tauhid yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah dan tidak mengharapkan dari ibadah tersebut kepada selain Allah. Tauhid adalah agama para nabi. Inilah makna Islam secara umum. Memurnikan ibadah hanya kepada Allah dan berlepas diri dari orang-orang yang beribadah kepada selain Allah. Sebagaimana perkataan nabi Ibrahim dan kaumnya dalam surat Al Mumtahanah,

"Sungguh, telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja."

Pelajaran ketiga
Ahlut tauhid diantara sifat mereka adalah bersatu sedangkan ahlus syirik sifat mereka adalah tercerai berai. Ibnu Taimiyah berkata "Ahlus syirik, mereka itu bercerai berai sedang ahlut tauhid, mereka itu bersatu.

Pelajaran keempat

Jika ahlut tauhid, mereka adalah orang-orang yang berada di atas kebenaran maka tidak sepantasnya untuk berpecah-belah.Kita harus berusaha bersatu. Adapun masalah ijtihad jangan sampai membuat kita berpecah belah.

Sebagaimana hadis tentang perang Ahzab. Setelah shalat dzuhur Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan para sahabatnya, "Barangsiapa mendengar dan taat, janganlah sekali-kali shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah". Maka Para sahabatpun segera berangkat menuju ke perkampungan Bani Quraizhah untuk membuat perhitungan dengan mereka karena telah berkhianat dalam perang Ahzab ini. Di tengah perjalanan mereka mendapati datangnya waktu shalat ashar. Maka sebagian sahabat ada yang langsung mendirikan shalat ashar di tempat tersebut dan sebagain lagi mendirikan shalat ashar setelah sampai di perkampungan Bani Quraizah. Tetapi para sahabat tidak ada yang mencela satu sama lain karena perbedaan ijtihad ini.

Pelajaran kelima

Kelompok musyrikin, mereka bersikukuh dengan kesyirikan mereka, bangga dengan apa yang ada pada mereka. Syaikh Fauzan berkata : "Bangga dengan kebatilan adalah bentuk hukuman dari Allah". Termasuk ini adalah orang-orang yang telah diberi ilmu sains yang melecehkan ilmu agama.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar